21 Peserta Tampil, Juri Akui Sulit Cari yang Terbaik di Lomba Menyanyi Imigrasi Ambon

Ambon,CM – Kualitas peserta yang tampil dalam lomba menyanyi yang digelar Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Ambon membuat dewan juri menghadapi tantangan tersendiri. Dari 21 peserta yang mengikuti audisi pada hari pertama, hampir seluruhnya dinilai memiliki kemampuan bernyanyi yang baik.

Lomba tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketua Dewan Juri, Thomas D. Huwae, M.Sn., mengatakan, penilaian peserta tidak dilakukan hanya berdasarkan kualitas suara. Dewan juri menetapkan empat aspek utama sebagai dasar penilaian.

“Kalau kriteria penilaian yang kami pakai dalam audisi kemudian nanti dalam grand final, pertama adalah kemampuan vokal, kemudian teknik bernyanyi, pesan yang dia sampaikan dari lagu, kemudian artistic overall, artinya penampilan secara keseluruhan,” ujar Thomas.

Ia menjelaskan, keempat aspek tersebut menjadi acuan untuk memastikan setiap peserta mendapatkan penilaian yang objektif. Terlebih, kemampuan peserta yang tampil dinilai relatif merata.

Pada babak audisi, peserta harus menunjukkan kemampuan vokalnya tanpa iringan musik. Sementara pada grand final, peserta akan tampil dengan dukungan iringan musik.

Menurut Thomas, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi peserta sekaligus dewan juri. Peserta tidak hanya dituntut memiliki suara yang baik, tetapi juga mampu menguasai teknik bernyanyi, menyampaikan pesan lagu, serta memberikan penampilan yang menarik secara keseluruhan.

“Kesannya, Ambon Kota Musik. Memang rata-rata semua orang bisa bernyanyi. Sehingga menentukan yang terbaik daripada yang terbaik itu juga agak sulit,” ungkapnya.

Untuk menghindari penilaian berdasarkan selera pribadi, tiga orang juri menggunakan rubrik penilaian yang telah ditetapkan.

Thomas mengatakan, rubrik tersebut membantu juri melihat secara lebih terukur kelebihan maupun kekurangan masing-masing peserta.

“Kenapa kami bertiga harus pakai rubrik penilaian? Supaya menempatkan posisi agar tidak bias. Misalnya kita menilai ini bagus, ini bagus, tetapi kita melihat apa kekurangannya dan apa kelebihannya. Itu yang kita nilai,” jelasnya.

Ia menyebut, penampilan para peserta pada hari pertama secara umum sudah cukup baik. Namun, mereka yang berhasil lolos ke grand final masih memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas penampilan.

“Kesannya itu semua bernyanyi dengan baik. Harapan ke depan, ketika masuk final ini, mereka bisa lebih baik lagi,” katanya.

Thomas juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak lebih luas. Menurut dia, kompetisi musik seperti ini bisa menjadi contoh bagi instansi maupun komunitas lain di Kota Ambon untuk ikut menciptakan ruang bagi masyarakat dalam menyalurkan bakat seni.

“Dari lomba ini, pemenangnya bisa memberikan satu contoh yang baik buat instansi lain atau komunitas lain untuk bisa melakukan seperti ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan semacam ini penting untuk terus digelar guna memperkuat identitas Ambon sebagai Kota Musik. Predikat tersebut, kata Thomas, harus diikuti dengan aktivitas musik yang nyata dan berkelanjutan.

“Status Ambon Kota Musik itu tidak gampang. Predikat itu sudah didapat, bahkan kemarin dari UNESCO predikatnya excellent. Sehingga lomba-lomba seperti ini harus sering diadakan, bukan hanya di administrasi, tetapi di instansi mana pun,” pungkasnya. ( CM/ML/**)

Komentar

0 Komentar